Sarasehan Budaya : Tsunami Informasi di Pantai Internet - Kwartir Cabang Kota Yogyakarta

Info Kita

Post Top Ad

Friday, July 27, 2018

Sarasehan Budaya : Tsunami Informasi di Pantai Internet



YOGYAKARTA — Salah satu agenda pembuka dari Kemah Budaya Daerah XII Tahun 2018 Yogyakarta adalah Sarasehan Budaya yang diikuti oleh 100 peserta, Kamis (26/07/2018) dengan mengangkat tema tips menjadi Pembina jaman now dalam menghadapi Generasi Milenial.

Ada 3 narasumber yang dihadirkan dalam sarasehan yang diikuti oleh andalan, pelatih, pembina, serta racana se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yakni, Kak Sri, Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kakak Prof. Suwarsih, Wakil Ketua Urusan Budaya dan Budi Pekerti, dan Kakak Edy Heri S, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Dalam paparannya, narasumber pertama kak Sri membahas bahwa saat ini kita sedang berperang dengan pemikiran, bukan musuh fisik, bisa dikatakan yang terjadi adalah penjajahan melalui gawai. Untuk menghadapinya, kita harus bisa menyikapi dengan bijak bagaimana mendidik generasi muda untuk tidak mudah diserang pemikiran negatif.

"Tanggung jawab Gerakan Pramuka adalah mendidik anak – anak generasi muda, termasuk melatih menumbuhkan kreatifitas," ulasnya.

Kak Sri juga berharap dengan diselenggarakan sarasehan, akan ada hasil rekomendasi dari kota Budaya, dari Yogyakarta untuk Indonesia melalui kwartir cabang dan kwartir daerah.

Ulasan selanjutnya dari Kak Suwarsih yang lebih fokus pada pembahasan budaya, karakter, nilai, dan jatidiri yang menjadi tugas dalam mendidik anggota Gerakan Pramuka. Ia menyebut bahwa saat ini telah terjadi Tsunami Informasi di Pantai Internet yang menuntut pelatih maupun pembina untuk bisa menjadi navigator.

"Orang Indonesia mempunyai lapisan kepribadian (lokal, nasional dan global). Sedangkan informasi yang datang cepat, kadang tidak tepat. Semua harus mempunyai literasi teknologi informasi, konflik nilai baik lokal yang ditanamkan dan global yang bisa disaksikan melalui berbagi media,” terang kak Warsih.

Berlanjut kepada uraian dari Kak Edy yang mengingatkan kembali apa yang telah dijelaskan oleh Rumah Milenial, bahwa gen Y atau generasi milenial adalah yang ketika dilahirkan, teknologi di dunia mulai berkembang (kelahiran tahun 80-90an hingga 2000an). Bagi Kakak Pembina yang sesama generasi milenial dalam mengatur latihan akan lebih mudah, karena memiliki bahasa dan pengetahuan yang sama.

Namun, setiap pembina hendaknya meng-update pengetahuan sesuai perkembangan jaman. Juga menyiapkan cara menghadapi generasi pasca milenial, salah satunya dengan membangun jejaring untuk memperluas literasi pengetahuan dan perkembangan informasi. (fgp)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad